Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Lepaskanlah kami dari Si Jahat: Demonologi 101

victorc's picture

Lepaskanlah kami dari Si Jahat: Demonologi 101

 

Shalom aleikhem,

Bapak ibu, para sahabat dan poro dulur, menulis tentang Demonologi sebenarnya agak berisiko, tidak saja di kalangan gereja-gereja arus utama, bahkan juga Baptis, Lutheran, bahkan yang kharismatik-Pentakostalisme sekalipun.

Tentunya penulis tidak merasa sudah cukup memahami bidang yang ruwet ini, namun setidaknya berusaha menyampaikan beberapa hal untuk mengingatkan para pembaca, terutama mengingat kita sedang atau menjelang memasuki masa kesesakan (tribulasi), dan sangat mungkin bahwa kuasa-kuasa kegelapan akan lebih kuat daripada sebelumnya. Kabarnya AntiKris akan segera menampakkan diri, dan seterusnya dan seterusnya.

Karena itu penulis memberi judul artikel ini “Demonologi 101”, artinya lebih merupakan prolog ke topik tersebut. Pembaca yang berminat, dipersilakan menggali lebih jauh dari literatur yang ada.

Sumber yang penulis gunakan di antaranya adalah 2 artikel di Jurnal Teologi Amreta, Vol. 1 no. 1 (2017). Lihat (1)(2). 


Beberapa catatan

1.Abad Pencerahan dan Cessasionisme

Siapapun yang pernah membaca keempat kitab Injil tentu memperoleh kesan bahwa pelayanan Yesus semasa di bumi, mencakup antara lain: menyembuhkan orang sakit (lumpuh, buta, dst), mengusir setan, memberi makan kepada lima ribu orang, dan juga sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

Dalam pelayanan tersebut, ada beberapa hal yang cukup mencolok: (I) Yesus pernah dicobai oleh Iblis sebanyak 3 kali, (ii) Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya Doa Bapa kami, yang memuat kalimat “Lepaskanlah kami dari Si Jahat.” (iii) Yesus mengutus para murid untuk melakukan hal-hal yang sama yang Dia lakukan, bahkan hal-hal yang lebih besar dari itu.

Namun yang cukup aneh, adalah bahwa hal-hal yang kerap kita baca dalam PB itu, dianggap sudah tidak berlaku lagi di masa kini. Pengajaran ini disebut sebagai “Cessassionisme,” yang intinya meragukan bahwa karunia tanda, mujizat dll yang dikisahkan dalam keempat Injil dan juga Kisah Para Rasul, masih dapat terjadi masa kini. Seolah-olah Tuhan menghentikan tanda dan kuasa tersebut, karena gereja telah dibekali oleh Kitab Suci. Kesaksian dan berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia, menunjukkan bahwa Roh Yesus masih menguatkan kesaksian umat percaya dengan berbagai tanda.

Kalau ditelusuri, proses sekularisasi berita Injil, tidak hanya terjadi pasca teori “demitologisasi” yang diperkenalkan oleh Bultmann, yang maksudnya adalah bahwa semua kisah-kisah mujizat dalam Alkitab perlu dicarikan penjelasan ilmiahnya.

Sebenarnya, kecenderungan sekularisasi tersebut tidak saja dimulai oleh Bultmann, namun jauh sebelumnya ke era awal gerakan Pencerahan, misalnya oleh para tokoh Dutch Enlightenment. Dalam suatu edisi khusus jurnal Religions, yang mengangkat tema: “Witchcraft, Demonology, …”, ada artikel yang menarik karya I. del Olmo, membahas bagaimana tokoh-tokoh seperti Bekker dan Adriaan Koerbagh menolak adanya Iblis atau kerasukan setan dalam Alkitab. 

Memang ada banyak frase tentang hal-hal ajaib dalam Alkitab, misalnya satu ayat yang problematik bagi para ahli PL, yaitu “roh jahat yang daripada Tuhan” yang dapat kita baca pada kisah Raja Saul. Bagaimana mungkin ada roh jahat yang daripada Tuhan? Lalu dicarikan penjelasan ilmiahnya, bahwa mungkin Raja Saul mengalami semacam epilepsi. Demikian seterusnya.


2.Flaw of excluded middle

Yang jadi masalah, para misionaris Barat yang melayani di benua Afrika, Asia dll kerap menjumpai masalah-masalah yang jauh di luar jangkauan nalar atau rasio yang mereka pelajari di pendidikan di negeri mereka. Sehingga kerap tidak tahu bagaimana mesti memberikan respon.

Hal-hal ini yang diteliti oleh ahli misiologi, Paul G. Hiebert, dan mendorongnya untuk menulis artikel berjudul : “The flaw of excluded middle.” Yakni bagaimana pola pikir Cartesian yang memisahkan manusia dalam 2 bagian utama, jiwa/pikiran dan tubuh, sehingga menciptakan pola reduksionisme yang menolak kemungkinan hal-hal yang spiritual.

Justru kekeliruan tersebut dapat ditelusuri ke logika Aristotelian, artinya menyertakan “dunia tengah” (middle ground), sehingga membuka ruang kemungkinan adanya interaksi antara manusia dengan kuasa kuasa di sekitarnya. 

Kira-kira demikianlah pemikiran Paul G. Hiebert, Jurnal Missiology (1982).


3.Antara naturalisme dan supernaturalisme

Selain problem middle ground yang diungkapkan oleh Paul Hiebert, juga dikenal problem klasik antara para teolog naturalis dan teolog supernaturalis. Tentunya menjadi jelas, bahwa tidak dalam semua kasus, penjelasan naturalis memadai, sama halnya kalau orang sakit keras, lalu pendekatan supernaturalis dengan hanya tengking-menengking, tidak selalu berhasil.

Dalam artikel (1), dikemukakan argumen:

“Adalah layak untuk mendengarkan analisis dan kritik Nigel Wright terhadap karismatik modern (sic. the third wavers) terutama pendekatan kepada kuasa kuasa gelap:

Dua ekstrem harus dihindari: naturalis yang akan mengurangi seluruh fenomena ini ke penjelasan materialis dan supernaturalis yang hanya mengizinkan satu interpretasi: setan. Sebaliknya harus diakui bahwa manusia itu kompleks keduanya dalam cara-cara di mana mereka secara sadar dan tidak sadar terkait satu sama lain, Setelah diakui bahwa manusia adalah kompleks secara psikologis, sosial, psikis dan spiritual, kita didorong untuk lebih berhati-hati tentang cara-cara di mana kita mungkin menafsirkan apa yang terjadi di depan mata kita. “(1)

Barangkali pendekatan yang lebih bijak adalah menemukan titik tengah di antara dua kutub tersebut. Sekali lagi, tampaknya ini juga problem yang muncul akibat logika Aristotelian.

 

Penutup dan saran kecil untuk Anda yang mengalami gangguan oleh kuasa gelap

Demikian sekelumit argumen dan sedikit pengalaman yang dapat kami sampaikan. Memang istilah daimonizomai umumnya diterapkan kepada orang-orang yang belum percaya, namun tidak menutup kemungkinan bahwa orang Kristen pun, jika tidak kuat imannya, masih bisa juga diganggu oleh roh jahat.

Hendaknya kita terus hidup di hadapan Tuhan dengan hati yang tulus, dan bergaul karib dengan Tuhan di hari-hari terakhir ini.

Sebagai penguat saja, bagi Anda yang tiba-tiba mengalami hal hal yang agak aneh di rumah. Ingatlah:

(a)Janji Tuhan: 

“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Yohanes 1:4-5. 

(b)Bilamana gangguan masih ada, Anda bisa menaikkan Doa Bapa kami dengan keras beberapa kali. Karena ada kalimat “Lepaskanlah kami dari Si Jahat”, doa tersebut juga akan berguna dalam mengusir kuasa kuasa gelap.

Ilustrasi. 

(c)Dalam beberapa kasus, Anda perlu lakukan doa disertai puasa. Karena ada kalanya: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.” (Mat. 17:21, Mrk. 9:29)

(d)Jika dalam beberapa hari, ternyata masih ada gangguan, mungkin Anda perlu mencari tim pendoa yang memang memiliki karunia dalam bidang ini.

Sebagai penutup, tentunya pembahasan ringkas kami di sini hanya membahas hal-hal yang sifatnya mendasar. Sama sekali bukan untuk panduan di lapangan.


Maranatha.


Versi 1.0: 15 Oktober 2021, pk. 16:54

VC


Bacaan lanjutan:

(1)G. Wiyono. TOWARDS AN INTERPRETATION OF THE PHENOMENA OF DEMON POSSESSED/DEMONIZED CHRISTIANS. Jurnal Amreta Vol. 1 No. 1 (2017)

(2)Cheong Weng Kit. Spiritual vulnerability through demonization in curses?  

A critical reassessment. Jurnal Amreta Vol. 1 no. 1 (2017)

(3)I. del Olmo. “Such Fictitious Evil Spirits”: Adriaan Koerbagh’s Rejection of Biblical Demons and Demonic Possession inA Light Shining in Dark Places (1668). Dalam Special Issue, “Witchcraft, Demonology and Magic.” Religions, MDPI, 2020.

 

(4)Joseph B. Lumpkin. Angels and Demons: From Creation To Armageddon. Fifth Estate, Post Office Box 116, Blountsville, 2009.

 


__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.