Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Ketekunan Ayub (1), Ayub 1:1-22

Liem Sien Liong's picture

Ketika Anda menghadapi persoalan atau sakit penyakit yang tidak kunjung selesai, apa reaksi Anda? Marah, kesal atau putus asa?!! Jika Anda marah, Anda marah kepada siapa? Atau jika Anda mulai putus asa, apa yang Anda akan perbuat?

Sebagai umat Tuhan, kita seringkali mempertanyakan keadaan buruk tersebut kepada Tuhan. Mengapa Tuhan membiarkan hal itu terjadi? Mengapa Tuhan diam saja? Memang tidak mudah bagi kita menghadapi peristiwa buruk menimpa kita dan tidak ada jawaban secara langsung dari Tuhan. Seakan-akan kita dibiarkan-Nya berjalan sendiri tanpa harapan dan kepastian tentang masa depan kita. Benarkah demikian?

Mari kita belajar dari pengalaman Ayub. Tidak seorangpun di dunia ini yang memiliki pnederitaan seperti Ayub. Dia tidak hanya kehilangan harta benda yang dapat dicari lagi, tetapi juga kehilangan anak-anak yang dikasihinya (1:13-19). Bahkan belum cukup sampai di situ penderitaannya, tubuhnya juga mengidap penyakit kulit yang buruk dari kepala sampai telapak kaki (2:7-8). Apa reaksi Ayub?

Ketika segala sesuatu yang dia miliki lenyap, Ayub masih dapat berkata: “terpujilah nama Tuhan!” Namun bagaimana, jika dirinya sendiri yang harus mengalami penderitaan itu? Sulit bagi kita pada masa kini membayangkannya, jika hal itu terjadi pada kita. Ketika harta benda kita lenyap, mungkin kita masih dapat berkata: “terpujilah nama Tuhan!” Namun jika hal itu terjadi bertubi-tubi, bukan saja harta, tetapi tubuh kita juga terserang penyakit, apa yang akan kita katakana tentang semuanya?

Secara jujur kita akan memiliki reaksi yang sama seperti sikap istri Ayub, yang berkata: “kutukilah Allahmu dan matilah!” (2:9). Di sini kita menjumpai reaksi manusiawi yang sedang menghadapi beban berat: (1) mempersalahkan Tuhan dan (2) membinasakan diri sendiri. Di sini “iman” dipertaruhkan dan “harapan” mulai diuji. Manakah yang menang? Di sinilah kita perlu ketekunan!

__________________

Dear, my friend

Ang Chen Chen

Mengenai pencobaan Ayub memang seringkali dipandang bahwa Allah sedang bertaruh dengan iblis, namun hal ini tentu akan menimbulkan asumsi yang menakutkan sebab kredibilitas Allah bergantung pada s