Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Garam

victorc's picture

Judul: Bagaimana menjadi garam dan terang?*

(How you can be the salt and the light of the world.)

Teks: Matius 5:13-16
    13  † "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 
    14  † Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 
    15  Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 
    16  † Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." 

Shalom, saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Tentu kita semua telah sering mendengar perintah Tuhan Yesus ini, bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Kita pasti juga telah berusaha keras menjadi garam yang asin dan pelita yang bercahaya. Namun, kalau kita mau jujur, kita seringkali gagal dalam upaya kita menjadi garam dan terang. Mengapa demikian?

Ada beberapa kemungkinan penyebabnya:

1. Kita berusaha dengan kekuatan sendiri. Ayat 13 dan 14 tidak berbunyi: hendaklah kamu berusaha keras menjadi garam dan terang dunia. Bukan itu kan? Yesus bersabda: kamu adalah garam, dan kamu adalah terang dunia. Artinya, garam dan terang itu adalah sifat yang melekat pada kita sebagai anak-anak Allah, jika kita memang anak-anak Allah yang sejati. Itu bukan hasil usaha kita, namun sifat yang dikaruniakan Allah sendiri kepada anak-anak-Nya.

2. Kita tidak hidup melekat kepada Sang Sumber Garam dan Sumber Terang. Perintah Tuhan Yesus ini merupakan panggilan agar kita menyerahkan diri secara total untuk dibentuk oleh Bapa di sorga. Kita hanyalah bejana tanah liat, dan Dialah Sang Penjunan. Kita mesti menyerahkan diri sepenuhnya agar dibentuk oleh Tangan Bapa. Dalam penyerahan diri itulah, maka kita belajar hidup melekat kepada Dia Sang Sumber Garam dan Sumber Terang itu, karena Yesuslah pokok anggur dan kita ini hanya carang-carang.

"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." - Yoh. 15:5

Ketika kita memberikan diri sepenuhnya untuk dibentuk dan diproses oleh Bapa itulah, maka dengan sendirinya kita akan memiliki kualitas garam dan terang yang diminta oleh Yesus.

3. Kita hidup terlalu larut dengan dunia. Kalau kita mau jujur, bukankah terlalu sering kita hanya mengikuti Injil yang murahan? Injil murahan itu bunyinya kira-kira begini: "Pokoknya ikut Yesus, pasti kamu diselamatkan." Kita enggan untuk bertobat, dan enggan belajar hidup menaati perintah-perintah Tuhan. Pokoknya, kita hanya mau mendengar Injil yang enak di telinga kita. Di sinilah, letak persoalan utama mengapa banyak anak-anak Allah yang gagal menjadi garam dan terang dunia. Karena kita hidup terlalu larut dengan dunia di sekitar kita, sehingga bukan kita yang menggarami dunia, kitalah yang digarami oleh dunia. Bukan kita yang membawa terang, namun kita yang silau dengan lampu-lampu berwarna-warni dari dunia. Dan kita gagal melihat bahwa di balik kemilau lampu-lampu dunia itu, ada kegelapan yang mengerikan. Artinya, kita gagal melihat dunia dengan mata Tuhan, dengan pikiran Tuhan, dengan hati Tuhan.
Memang kita semua sering berseru Tuhan, Tuhan, namun bukankah Yesus juga bersabda:

Matius 7:21
"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. "

Artinya, kita semua orang-orang Kristen mesti berbalik dari tingkah laku kita yang jahat dan dari manusia lama kita, lalu bertobat dan belajar hidup kudus dan menaati kehendak Bapa dalam hidup kita. Dan baru dengan cara itu, maka secara perlahan hati dan pikiran kita akan diperbarui, lalu kita akan menjadi garam dan terang yang sesungguhnya.
Itulah yang dimaksudkan dengan dilahirkan kembali (reborn), itu sama sekali bukan usaha kita, melainkan anugerah Tuhan semata. Itu hanya mungkin atas pekerjaan Roh Kudus, yang bertiup ke mana Dia mau. (baca Yohanes pasal 3).

Penutup
Kiranya renungan kecil ini dapat menolong kita agar sungguh-sungguh menyerahkan diri ke dalam pimpinan Roh Kudus, dan mulai menaati perintah-perintah Tuhan. Kita mesti hidup dengan sungguh-sungguh takut akan Tuhan.

Versi 1.0: 29 oktober 2017, pk. 15:39
VC
Dari hamba yang tidak berguna.

*catatan: artikel ini dipersiapkan dalam rangka ikut memperingati 500 tahun Gerakan Reformasi Gereja yang dipelopori oleh Martin Luther, tgl. 31 oktober 1517.

__________________

Dari seorang hamba Yesus Kristus (Lih. Lukas 17:10)

"we were born of the Light"

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ:

http://bit.ly/ApocalypseTV

visit also:

http://sttsati.academia.edu/VChristianto


http://bit.ly/infobatique