Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Belajar proses regenerasi kepemimpinan dari Yesus

victorc's picture

Belajar proses regenerasi kepemimpinan dari Yesus 

Victor Christianto

 

Shalom aleikhem,

Bapak ibu dan para sahabat terkasih dalam Tuhan Yesus, dalam artikel terdahulu berjudul “surat imajiner dari seorang CEO…” mungkin ada hal-hal yang dapat menimbulkan salah paham, karena itu baiklah penulis menegaskan beberapa poin yang penulis maksudkan.

Memang organisasi modern entah itu yang berorientasi laba maupun yang nir-laba, cenderung sangat menekankan hasil-hasil yang cepat. Kabarnya para pemegang saham di Amerika memberikan tekanan tinggi kepada para eksekutif perusahaan untuk memberikan hasil dalam jangka pendek, sementara para pemegang saham di Jepang lebih berorientasi pada tujuan jangka panjang.

Entah bagaimana, sepertinya kecenderungan untuk memberikan hasil-hasil yang tampak di mata (dapat diukur) itu juga tampak pada gereja dan organisasi Kristen lainnya, juga di negeri ini.

Padahal suatu organisasi yang baik perlu memiliki sasaran-sasaran intangible, selain yang tangible tentunya.

Misalnya, pada akhirnya seorang pemimpin yang baik perlu “develop mind, develop soul, develop potential” para pengikut mereka.

Hal-hal ini yang kerap terlupakan di tengah pelbagai aktivitas seorang pemimpin Kristiani. Jika seorang gembala atau pastor senior sudah mencapai usia 50-an atau 60-an namun belum memiliki seorang calon penerus, maka gereja atau organisasi itu sebenarnya memiliki masalah bagi kesinambungan di masa depan.

 

Suatu perspektif dari teladan Yesus

Dari sisi ini, ada baiknya kita belajar bagaimana cara Yesus mengembangkan potensi para muridNya. Suatu kali penulis mendengarkan sharing dari Ps. Jeff Hammond. Beliau adalah pelayan misi di Indonesia sejak tahun 70-an, dan merupakan salah satu perintis gereja Abbalove. Menurut beliau ada banyak gereja dan seminari yang seperti melupakan tugas regenerasi atau estafet kepada generasi berikutnya yang lebih muda. Padahal kalau kita belajar dari Kitab Injil, cara Yesus mendidik para murid terdiri dari 3 tahap:

- Saya bertindak, Anda melihat (lihat misalnya mukjizat air menjadi anggur di Kana, dan berbagai mukjizat lainnya);

- Saya bertindak, Anda membantu (lihat misalnya mukjizat Yesus mengubah 5 roti untuk 5 ribu orang);

- Anda bertindak, Saya melihat (terutama hal ini kita baca dalam tindakan para rasul dalam Kitab Kisah Para Rasul).*

Tiga tahapan tersebut perlu kita teladani dalam kehidupan pelayanan kita, sehingga para pemimpin muda dapat segera belajar untuk mengambil peran.

 

Lalu bagaimana dengan para pemimpin atau gembala senior?

Sampai di sini, mungkin ada pembaca yang bertanya, kalau demikian, lalu bagaimana dengan peran gembala senior? Mereka dapat berperan lebih sebagai mentor/coach, atau bisa juga memikirkan warisan pemikiran bagi generasi selanjutnya. Misalnya Ps. Abraham Park (alm.), yang ketika memasuki usia 50-an, mengambil waktu lebih dari 3 tahun ke salah satu gunung di Korea, khusus untuk berdoa dan menyelidiki Alkitab. Dan akhirnya Tuhan berikan karunia untuk menulis 6 buku Seri Sejarah Penyelamatan yang luar biasa.

 

Beberapa contoh kasus

Dalam bagian berikut ini, ijinkan penulis menyampaikan beberapa contoh kasus dari beberapa gereja atau seminari, tentu bukan dengan maksud menyudutkan, namun agar kita dapat belajar sesuatu. Dan sama sekali bukan maksudnya untuk mengajari para gembala dan pastor senior, wong saya ini juga tidak ada pengalaman dalam memimpin umat. 

Kalaupun ada sedikit hal yang dapat penulis bagikan, ada beberapa hal berikut: sejak beberapa tahun lalu, penulis mengawali penelitian dengan beberapa rekan peneliti yang lebih muda; dengan harapan dapat mendorong mereka berkembang menjadi peneliti yang handal. Dan juga penulis bersyukur dapat bekerjasama dengan seorang peneliti yang jauh lebih senior, sejak tahun lalu.

Beliau adalah seorang pendeta emeritus di salah satu gereja besar di ibukota. Suatu kali beliau mengajak menulis bersama untuk jurnal yang terindeks Scopus. Penulis menjawab beliau, bahwa menerbitkan paper teologi dalam jurnal terindeks Scopus itu tidak mudah. Karena umumnya jurnal teologi paling hanya terbit 1-2 kali setahun, jadi kalau kita kirim artikel tahun ini, ya bisa-bisa baru 2 tahun lagi baru terbit. Jadi akhirnya kami memilih untuk submit artikel ke beberapa konferensi/seminar. Salah satu seminar yang kami ikuti diadakan bulan Nopember 2020 oleh OCRPL, lalu bulan Desember 2020 di Universitas Baku - Azerbaijan, dan terakhir konferensi dalam rangka Kebangkitan Nasional di STT Pelita Bangsa. Lalu bulan Juni lalu, penulis membendel beberapa artikel tersebut menjadi draft buku, dan kini sedang dalam proses penerbitan.

 

 

Berikut ini adalah 3 contoh kasus nyata sebagai bahan pembelajaran:

1. Beberapa tahun silam, waktu itu penulis sedang berada di Terminal Purabaya, Surabaya, kebetulan melihat suratkabar pagi “Surabaya Post.” yang membuat penulis prihatin, di halaman pertama dimuat berita tentang persengketaan berlarut-larut di sebuah gereja besar di Surabaya. Tidak perlu disebutkan nama gerejanya, karena pasti orang Surabaya sudah pada paham. Persengketaan berlarut yang melibatkan gembala senior dan menantunya, tampaknya mengindikasikan adanya persoalan dalam proses regenerasi.

2. Di gereja lainnya, juga di Surabaya, ada berita seorang gembala senior yang menyingkirkan gembala yunior, dengan pertimbangan tertentu. Mungkin lantaran gembala yunior tersebut dianggap mulai menonjol atau mulai populer di kalangan jemaat, atau gembala senior masih ingin untuk pegang kendali, atau pertimbangan lainnya. Yang jelas, gembala yunior itu salah seorang yang hadir saat kami mendengar Ps. Jeff Hammond memberikan sharing tentang 3 tahap pemuridan yang diteladankan Yesus.

3. Supaya tidak semua contoh dari Surabaya, baiklah diberikan contoh dari sebuah seminari besar di salah satu kota dekat Malang, Jawa Timur. Seminari injili tersebut sebelumnya cukup terkenal, terutama karena pendirinya yang kharismatik. Namun, sepeninggal pemimpin senior dari seminari tersebut, rupanya ada masalah dalam proses peralihan kepemimpinan. Kini tampaknya mereka berusaha untuk terus berbenah.


Lalu bagaimana solusinya?

Sekadar berbagi pemikiran bagi para gembala senior, bahwa proses regenerasi sebaiknya memang direncanakan (intensional). Selain mempertimbangkan perlu seorang pemimpin empower, enrich, develop human potential melalui 3 tahapan di atas, namun juga perlu disadari bahwa pemimpin yang baik sekalipun pasti ada area kelemahan (blind spot).

Karena itu, salah satu cara yang baik adalah membangun lingkaran dalam dari tim organisasi atau gereja Anda. Dalam lingkaran dalam tersebut, maka pimpinan atau gembala senior dapat secara terbuka meminta masukan atau bahkan kritik dari anggota tim lingkaran dalamnya. Dan dengan sendirinya, hal itu akan menumbuhkan suasana keterbukaan dan mau saling dikritik dan mengkritik di tim inti tersebut.

Pada gilirannya, dari lingkaran dalam tersebut akan muncul calon-calon pemimpin organisasi tersebut ke depannya. Saya kira pemilihan 3 orang murid inti dalam lingkaran murid Yesus juga memberikan teladan yang baik akan hal tersebut.

 

Penutup

Demikian artikel singkat yang sebenarnya sama sekali tidak memadai untuk menjelaskan proses regenerasi yang kompleks. Namun harapan kami adalah setidaknya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi organisasi dan gereja-gereja.

Bapa di surga memberkati bapak-ibu sekalian.

  

*Note:

Sedikit catatan dari penulis, dari apa yang penulis alami dalam beberapa tahun terakhir. Kadang Tuhan berikan beberapa tugas yang bagi kami lumayan mustahil. Namun ketika penulis sampaikan kepada Tuhan Yesus, bahwa tugas yang diberikan tersebut di luar kemampuan penulis, Tuhan memberikan jawab: “Tidak apa, kerjakan saja sebisamu. Nanti Aku yang akan melengkapi.” Jadi kesimpulan penulis adalah, barangkali yang lebih tepat, 3 tahapan Yesus mendidik adalah murid-muridNya adalah sebagai berikut:

- Saya bertindak, Anda melihat (lihat misalnya mukjizat air menjadi anggur di Kana, dan berbagai mukjizat lainnya);

- Saya bertindak, Anda membantu (lihat misalnya mukjizat Yesus mengubah 5 roti untuk 5 ribu orang);

- Anda bertindak, Saya membantu (artinya Tuhan Yesus melalui Roh Kudus terus menerus menguatkan dan membantu setiap kita dalam menjalankan tugas yang Tuhan berikan.)

Kalau boleh menggunakan ibarat seperti bermain organ, peran penulis paling hanya sebatas bermain not do re mi, selebihnya Tuhan Yesus Sang Mestro, yang melengkapi dan menyelesaikan seluruh komposisi.

 

Versi 1.0: 25 Sept. 2021, pk. 14:17

VC

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.